JAKARTA, Cobisnis.com – Salah satu kekurangan nutrisi yang paling umum, adalah ketika kekurangan zat besi yang seringkali tidak terdeteksi pada tahap awalnya.
Seperti yang ramai dibahas di media sosial soal wajah ferritin (feritin) yang merupakan kondisi wajah sperti kulit pucat, kusam, atau lingkaran hitam di bawah mata yang diakibatkan rendahnya cadangan zat besi (ferritin) dalam tubuh.
Edwina Raj, Kepala Layanan Nutrisi Klinis & Dietetik, Rumah Sakit Aster CMI, Bangalore , menjelaskan bahwa wajah feritin, yang disebabkan oleh kekurangan zat besi dalam tubuh, membuat kulit tampak kusam, dengan tanda-tanda yang paling terlihat pada gusi berdarah, bibir bengkak, bantalan kuku, atau kelopak mata bagian dalam bawah.
“Kadar feritin di bawah 15 ng/mL umumnya dianggap sebagai indikator jelas kekurangan zat besi,” katanya dikutip dari Indianexpress, Minggu (27/9/2026).
Raj menjelaskan bahwa zat besi mendukung tingkat energi, fungsi otak, aktivitas otot, dan sistem kekebalan tubuh. Jadi, ketika kadar zat besi rendah, tubuh mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen dan itu berpengaruh pada kesehatan kulit seseorang.
Menurutnya, zat besi juga penting untuk pertumbuhan rambut yang sehat. Kekurangan zat besi dapat melemahkan folikel rambut yang menyebabkan kerontokan rambut berlebihan atau penipisan rambut yang terlihat seiring waktu.
Raj menjelaskan bahwa tubuh dapat mengalami kekurangan zat besi ketika seseorang tidak mendapatkan cukup zat besi melalui makanan, mengalami kesulitan menyerap zat besi, atau kehilangan darah karena kondisi seperti pendarahan menstruasi yang berat atau pendarahan saluran pencernaan.
“Jika kekurangan zat besi menjadi parah, hal itu dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yang dapat memengaruhi energi sehari-hari dan kinerja fisik,” tambahnya.
Oleh karena itu, tambahnya, gejala yang menetap harus dibicarakan dengan dokter dan dikonfirmasi melalui tes darah yang sesuai sebelum memulai minum suplemen zat besi, karena zat besi yang tidak mencukupi juga dapat berbahaya.
Sementara, Dr. Satish Koul, Direktur, Penyakit Dalam, Fortis Memorial Research Institute, Gurugram, menyebutkan bahwa asupan zat besi harian berbeda-beda untuk setiap orang.
“Perbedaan jenis kelamin, usia, dan jumlah aktivitas yang dilakukan seseorang merupakan faktor penting dalam menentukan asupan harian yang direkomendasikan,” ujar Dr. Koul.
Menurutnya, perempuan yang sedang menstruasi membutuhkan setidaknya 20 hingga 25 mg zat besi per hari dibandingkan dengan laki-laki pada kelompok usia yang sama yang membutuhkan 15 hingga 17 mg per hari.
“Wanita hamil dan menyusui membutuhkan setidaknya 5 mg zat besi berlebih per hari dibandingkan dengan perempuan lainnya,” tambahnya.
Perlu diketahui, untuk mengonsumsi suplemen zat besi hanya di bawah bimbingan medis. Menurutnya, hindari teh dan kopi di sekitar waktu makan, karena dapat mengganggu penyerapan zat besi. Istirahat yang cukup, mengurangi aktivitas fisik, dan tidur yang cukup sangat penting selama tubuh pulih, tambahnya.
“Sama pentingnya adalah mengobati penyebab yang mendasarinya, baik itu pendarahan menstruasi yang berat, asupan makanan yang buruk, atau masalah penyerapan. Tes darah rutin dan konsultasi lanjutan memastikan pemulihan berjalan sesuai rencana dan membantu mencegah kambuh kembali,” pungkasnya.











