JAKARTA, Cobisnis.com – Menjelang pemilu legislatif Israel pada 27 Oktober mendatang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan enggan memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk kembali menjabat menjelang pemilu mendatang.
“Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terlibat dalam politik, kecuali bahwa kami populer,” kata Trump dikutip dari anadolu, Jumat (2/10/2026).
Ketika Trump didesak kembali mengenai hal itu, Trump menjawan, “Tidak, hal utama bagi saya—saya ingin membantu mereka mempertahankan Israel,” tanpa memberikan dukungan secara eksplisit dalam wawancara yang dilakukan oleh majalah TIME.
Presiden AS itu malah menyoroti dirinya tentang tingkat popularitasnya di kalangan masyarakat Israel dan mengklaim dukungan terhadap dirinya mencapai sekitar 99 persen berkat kebijakan-kebijakannya pada masa lalu.
Saat Trump ditanya apakah Washington dapat bekerja lebih efektif dengan kandidat oposisi sekaligus mantan kepala militer Israel Gadi Eisenkot, Trump mengatakan dirinya tidak mendengar hal-hal buruk tentang dia, tetapi memperingatkan agar tidak meremehkan Netanyahu.
“Orang-orang sudah berkali-kali menganggap Bibi (nama panggilan Netanyahu) selesai, sama seperti mereka berkali-kali menganggap saya selesai. Saya tidak akan meremehkan Bibi,” tambah Trump.
Hubungan Trump dengan Netanyahu disebut semakin tegang dalam beberapa bulan terakhir akibat perang di Iran serta berlanjutnya serangan Israel di Lebanon dan Gaza.
Trump juga meragukan laporan bahwa Netanyahu telah menerima peringatan intelijen sebelum serangan 7 Oktober. Menurutnya, pasukan Israel seharusnya telah disiagakan jika Netanyahu mengetahui ancaman tersebut sebelumnya.
“Saya rasa tidak. Saya pikir … jika dia mengetahuinya, dia pasti akan melakukan sesuatu,” katanya.
Perluasan perang Iran dan kendali jalur laut
Membahas perang Iran yang kini memasuki bulan ketujuh, Trump mengatakan dirinya sengaja memperluas operasi militer untuk menghancurkan infrastruktur militer dan nuklir Teheran setelah perkiraan awal menyebut kampanye tersebut akan berlangsung empat hingga delapan pekan.
“Hanya karena saya ingin melangkah lebih jauh. Saya sebenarnya bisa berhenti sampai di sana, tetapi saya merasa itu tidak tepat,” jelas Presiden AS itu.
Trump mengakui penutupan Selat Hormuz oleh Iran sempat berhasil untuk sementara waktu, tetapi mengklaim AS kemudian mengambil alih kendali atas jalur perairan strategis tersebut.
Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz.
Trump juga mengonfirmasi telah menolak tawaran gencatan senjata Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan menyebut persyaratan yang diajukan tidak cukup baik.
Ketika ditanya apakah Washington berencana meningkatkan serangan udara setelah pemilu paruh waktu Kongres AS mendatang, Trump awalnya mengatakan hal tersebut mungkin dilakukan sebelum kemudian menarik diri dari jawaban tersebut.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda soal itu,” jelas Trump.













