JAKARTA, Cobisnis.com – Negara-negara di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$400 miliar atau setara Rp7.252 triliun per tahun untuk mencapai target transisi energi.
Kebutuhan dana tersebut merujuk pada studi ASEAN Energy Outlook ke-9 yang dipaparkan ASEAN Centre for Energy atau ACE.
Head of Energy Modelling and Policy Planning ACE, Zulfikar Yurnaidi, mengatakan nilai investasi yang dibutuhkan kawasan akan terus meningkat seiring target transisi energi yang dijalankan negara-negara ASEAN.
“Kita bisa mengurangi kebutuhan ini bisa sampai setengahnya. Tapi salah satu konsekuensinya adalah nilai investasi yang dibutuhkannya juga akan semakin tinggi,” kata Zulfikar.
Ia menyebut kawasan ASEAN membutuhkan sekitar US$400 miliar per tahun untuk mencapai berbagai target energi yang telah ditetapkan.
Studi tersebut juga memproyeksikan kebutuhan energi primer di negara-negara ASEAN akan melonjak hingga empat kali lipat atau 400 persen dari saat ini sampai 2060.
Lonjakan kebutuhan energi itu menjadi tantangan besar bagi negara-negara ASEAN. Ketahanan energi dan pemenuhan pasokan harus tetap berjalan beriringan dengan agenda dekarbonisasi.
ACE telah menganalisis sejumlah skenario untuk menekan lonjakan kebutuhan energi primer. Strategi yang didorong meliputi efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, dan elektrifikasi.
Menurut Zulfikar, kombinasi langkah tersebut berpotensi memangkas kebutuhan energi primer hingga setengahnya.
Sebanyak 11 negara ASEAN juga telah berkomitmen mendorong transisi energi yang berpusat pada ketahanan energi sambil tetap mengimbangi agenda dekarbonisasi.
Namun, koordinasi antarnegara menjadi pekerjaan besar karena setiap anggota memiliki kepentingan nasional masing-masing. ACE pun berupaya menjembatani kepentingan nasional dan regional agar target transisi energi dapat berjalan searah.













