JAKARTA, Cobisnis.com – Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh terus meningkat. Survei Herbalife APAC Wellness Culture Survey 2026 menunjukkan 91% masyarakat Indonesia menilai kesehatan holistik yang mencakup aspek fisik, mental, dan emosional sebagai hal yang sangat atau amat penting.
Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Sebanyak 85% responden di Indonesia juga mengaku kesehatan holistik kini lebih penting dibandingkan tiga tahun lalu.
Survei ini melibatkan lebih dari 10.000 responden di 11 negara dan wilayah Asia Pasifik, termasuk 1.002 responden di Indonesia. Hasilnya menunjukkan masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan bukan sekadar terbebas dari penyakit, tetapi juga mencakup kualitas tidur, kesehatan mental, asupan nutrisi yang seimbang, serta keseimbangan emosional.
Director & General Manager Herbalife Indonesia Oktrianto Wahyu Jatmiko mengatakan terjadi perubahan dalam cara masyarakat Indonesia memandang kesehatan.
“Kini, semakin banyak orang menyadari bahwa hidup sehat tidak hanya berarti aktif secara fisik, tetapi juga menjaga kesehatan mental, emosional, dan pola nutrisi secara seimbang. Pergeseran pola pikir ini merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Oktrianto.
Nutrisi dan Kualitas Tidur Jadi Perhatian
Survei tersebut menemukan tiga aspek kesehatan yang paling ingin ditingkatkan masyarakat Indonesia, yakni kualitas nutrisi dan pola makan sebesar 50%, kualitas tidur 49%, serta kesehatan mental 46%.
Temuan ini menunjukkan pendekatan masyarakat terhadap wellness semakin komprehensif. Perhatian tidak hanya tertuju pada aktivitas fisik, tetapi juga kualitas istirahat dan kesejahteraan psikologis.
Dari sisi persepsi terhadap kondisi kesehatan saat ini, sebanyak 77% responden menilai kesehatan fisiknya berada dalam kategori baik atau sangat baik. Sementara itu, 74% menilai kondisi kesehatan mentalnya baik dan 66% menyatakan kesejahteraan emosionalnya berada dalam kondisi baik.
Mayoritas responden juga merasakan adanya peningkatan kondisi kesehatan dibandingkan tiga tahun lalu. Sebanyak 63% menyatakan kesehatan fisik mereka membaik, sedangkan masing-masing 66% melaporkan peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat optimisme tertinggi terhadap kondisi kesehatan pribadi di kawasan Asia Pasifik.
Waktu dan Pekerjaan Jadi Hambatan
Perubahan perspektif masyarakat terhadap kesehatan turut dipengaruhi sejumlah faktor. Kekhawatiran terhadap proses penuaan menjadi faktor utama yang disebut 60% responden, disusul perubahan besar dalam kehidupan sebesar 41%, serta keinginan memiliki lebih banyak energi dan meningkatkan performa di tempat kerja sebesar 40%.
Temuan tersebut menunjukkan masyarakat semakin melihat kesehatan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kebutuhan sesaat.
Meski demikian, membangun kebiasaan hidup sehat secara konsisten masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan waktu menjadi hambatan bagi 48% responden, sementara 36% menyebut tuntutan pekerjaan sebagai tantangan utama.
Di sisi lain, dukungan keluarga, teman, dan media sosial menjadi faktor yang paling berpengaruh dalam menjaga motivasi masyarakat Indonesia menjalani pola hidup sehat. Hal ini menunjukkan pentingnya dukungan sosial dalam membangun kebiasaan sehat secara berkelanjutan.
“Seiring berkembangnya budaya hidup sehat, penting bagi kita untuk terus membangun komunitas yang suportif dan memiliki pengetahuan yang memadai agar kesehatan menjadi lebih mudah diakses, lebih personal, dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Membangun kesehatan holistik merupakan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Nutrisi yang tepat, gaya hidup aktif, serta dukungan dari komunitas menjadi kombinasi penting untuk membantu masyarakat mempertahankan kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan,” tutup Oktrianto.













