JAKARTA, Cobisnis.com – Ratusan drone menyasar wilayah Rusia pada Minggu, 16 Agustus 2026, di tengah serangan rudal Rusia ke Ukraina. Serangan tersebut berlangsung sepanjang malam dan menyasar sejumlah wilayah, termasuk Moskow.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin melaporkan sistem pertahanan udara Rusia berhasil mencegat lebih dari 600 drone. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 drone disebut berhasil ditembak jatuh.
Gubernur wilayah Moskow Andrey Vorobyov menyebut serangan tersebut sebagai salah satu serangan drone paling masif dalam beberapa waktu terakhir. Ia mengatakan enam orang terluka akibat serangan tersebut.
“Di Podolsk, hantaman UAV menyebabkan kebakaran di gudang Wildberries di Kawasan Industri Koledino,” kata Vorobyov. dikutip dari beberapa sumber, Minggu (16/08/2026)
Serangan tersebut juga berdampak pada fasilitas yang berkaitan dengan Wildberries, salah satu peritel daring besar di Rusia. Ukraina diketahui semakin sering menyasar gudang dan bangunan milik perusahaan tersebut.
Sejak pertengahan Juli, Ukraina disebut telah menyerang sekitar 20 gudang dan bangunan yang berkaitan dengan Wildberries. Ukraina menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas pemboman Rusia terhadap kota dan infrastruktur di wilayah Ukraina.
Serangan drone ke Rusia terjadi bersamaan dengan serangan rudal Rusia ke Ukraina. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dua orang di Zaporizhzhia dan Kryvyi Rih, termasuk wilayah yang merupakan kampung halaman Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Lebih dari 20 orang juga dilaporkan terluka di sejumlah wilayah Ukraina. Beberapa lokasi terdampak antara lain Kyiv, Brovary, Kryvyi Rih, Odesa, dan Dnipropetrovsk.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mendesak masyarakat untuk tetap berada di tempat perlindungan selama serangan berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan eskalasi serangan udara masih terus terjadi di tengah perang Rusia dan Ukraina.
Pertukaran serangan drone dan rudal kembali memperlihatkan intensitas konflik yang belum mereda. Rusia dan Ukraina terus menggunakan serangan udara untuk menargetkan wilayah dan fasilitas yang dianggap berkaitan dengan kepentingan militer maupun logistik masing masing.













