JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan bahwa konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia, terutama melalui gangguan pasokan energi global.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Saad al-Kaabi menilai perang yang berkepanjangan di kawasan tersebut dapat menimbulkan dampak luas terhadap industri energi, perdagangan internasional, hingga pertumbuhan ekonomi global.
Menurutnya, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung dalam perang. Gangguan distribusi minyak dan gas juga berpotensi memicu efek berantai pada pasar energi dunia.
Ia menjelaskan bahwa bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, industri energi di kawasan Teluk tetap membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali ke kondisi normal.
Qatar sendiri diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali ke siklus pengiriman energi yang stabil. Hal ini disebabkan oleh potensi gangguan pada jalur distribusi dan logistik energi.
Saad al-Kaabi juga memperingatkan bahwa situasi keamanan yang memburuk dapat memaksa negara-negara produsen energi di kawasan Teluk menghentikan produksi dalam beberapa minggu mendatang.
Jika skenario tersebut terjadi, pasokan energi global akan terganggu secara signifikan. Dampaknya dapat memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Dalam proyeksinya, harga minyak mentah dunia bahkan dapat melonjak hingga mencapai US$150 per barel jika produksi energi di Timur Tengah terganggu secara besar-besaran.
Lonjakan harga tersebut berpotensi menekan perekonomian global. Biaya energi yang tinggi dapat meningkatkan inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta menaikkan biaya produksi bagi berbagai sektor industri.
Kawasan Teluk sendiri merupakan salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia. Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan minyak dan gas global.
Apabila produksi energi dari kawasan ini terganggu, dampaknya akan dirasakan oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat, China, negara-negara Eropa, hingga negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
Saad al-Kaabi pun menegaskan bahwa konflik yang terus meluas dapat membawa konsekuensi besar bagi stabilitas ekonomi global. Ia bahkan memperingatkan bahwa perang berkepanjangan berpotensi meruntuhkan perekonomian dunia.













