JAKARTA, Cobisnis.com — Umbi kimpul dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu sumber pangan lokal bernilai ekonomi.
Tanaman tersebut relatif mudah dibudidayakan dan dapat ditanam sebagai tanaman sela. Selain itu, proses pengolahannya juga cukup sederhana.
Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Titi Candra Sunarti, mengatakan kimpul berpeluang dikembangkan sebagai pangan fungsional. Umbi tersebut juga dapat menjadi bahan dasar berbagai produk pangan bebas gluten.
“Kimpul itu mudah tumbuh dan tidak memerlukan lahan khusus. Tanaman ini juga dapat dijadikan tanaman sela karena tidak terlalu tinggi. Pengolahannya sederhana, bisa direbus atau dikukus dan langsung dikonsumsi,” paparnya, dikutip Minggu (27/9/26).
Titi menjelaskan kimpul berbeda dengan talas meskipun keduanya kerap dianggap sama. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk daun dan karakter umbinya.
Dalam satu tanaman kimpul, umbi utama dapat menghasilkan lebih dari satu anak umbi. Sementara itu, talas umumnya memiliki satu umbi batang. Di sejumlah daerah, kimpul juga dikenal dengan nama belitung atau talas belitung.
Dari aspek gizi, umbi-umbian umumnya memiliki kandungan protein dan lemak lebih rendah dibandingkan serealia. Karena itu, konsumsinya tetap perlu disertai makanan sumber protein agar kebutuhan gizi terpenuhi.
Kimpul memiliki karakter karbohidrat yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi. Kandungan tersebut juga dapat membantu memberikan rasa kenyang dalam waktu lebih lama.
“Karakter tersebut membuat kimpul berpotensi dimanfaatkan sebagai bagian dari pola konsumsi yang memperhatikan pengendalian gula darah,” tutur Sunarti.
Kimpul juga memiliki kandungan asam oksalat yang relatif rendah dibandingkan sejumlah jenis umbi lainnya.
“Ada (oksalat), tetapi sedikit. Jadi tidak menimbulkan gatal di mulut,” ucapnya.
Kandungan oksalat pada sejumlah umbi dapat berbentuk kristal menyerupai jarum dan menimbulkan sensasi gatal di mulut. Namun, kadar tersebut dapat dikurangi melalui proses sederhana, seperti merendam umbi dengan air garam atau air kapur sebelum dimasak.
Pengembangan kimpul juga berpotensi diarahkan ke industri pangan bebas gluten. Umbi tersebut dapat diolah menjadi beragam makanan, termasuk perkedel dan keripik.
“Kalau produksi berlebih, baru dibuat tepung. Tepung itulah yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan berbagai produk pangan.”
Meski memiliki sejumlah potensi, pengembangan kimpul masih menghadapi kendala pada sisi industri pengolahan. Industri tepung berbahan dasar umbi belum berkembang sebesar industri tepung terigu.
Karena itu, penguatan rantai pasok, ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan, serta standardisasi dan inovasi produk diperlukan. Langkah tersebut dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi kimpul sebagai komoditas pangan lokal.












