JAKARTA, Cobisnis.com – Aktivitas pekerja dalam proses pemintalan benang sebagai bahan baku tekstil masih berlangsung di Karta Ajies Garment, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026). Di tengah aktivitas tersebut, industri tekstil nasional kini menghadapi tekanan cukup berat akibat dampak konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama yang dirasakan para pelaku industri. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia yang berpengaruh langsung terhadap biaya produksi, khususnya pada sektor tekstil berbasis petrokimia.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menjelaskan bahwa harga paraxylene komponen utama dalam produksi poliester saat ini telah mencapai USD 1.300 per ton. Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan, yakni sekitar 40 persen dibandingkan dengan harga dua minggu sebelumnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, karena berpotensi mengganggu stabilitas dan keberlangsungan industri tekstil dalam negeri. Jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak pada peningkatan harga produk hingga penurunan daya saing industri nasional.













