JAKARTA, Cobisnis.com – Jumlah orang yang ditangkap akibat demonstrasi berujung ricuh di Prancis telah melampaui 1.800 orang. Kerusuhan yang terjadi di Paris dan sejumlah kota lainnya pada Sabtu (17/10/2026) diwarnai bentrokan dengan polisi, penjarahan, hingga pembakaran bangunan dan kendaraan.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyatakan, sebanyak 1.800 orang telah ditangkap selama dan setelah aksi protes tersebut. Penyelidikan kini berlangsung untuk mengidentifikasi para pelaku agar dapat diproses hukum.
Jumlah tersebut meningkat dari laporan sebelumnya yang menyebut sekitar 1.200 orang ditangkap. Perdana Menteri Sébastien Lecornu juga menyampaikan bahwa 150 petugas kepolisian terluka dalam bentrokan tersebut.
Di Paris, polisi menangkap 855 orang, jumlah yang disebut sebagai rekor penangkapan terkait kekerasan dalam demonstrasi di ibu kota Prancis itu. Kantor Kejaksaan Paris menyebut lebih dari 500 orang berada dalam tahanan.
Kejaksaan Paris merinci sebanyak 346 orang dewasa dan 171 anak di bawah umur telah ditahan, dengan total sementara 517 orang. Penangkapan berlangsung sepanjang malam hingga pukul 06.00 waktu setempat pada Minggu (18/10/2026).
Sebagian besar penangkapan di Paris berkaitan dengan dugaan penadahan barang curian, persekongkolan untuk melakukan kekerasan, serta perusakan fasilitas umum. Angka tersebut merupakan bagian dari total penangkapan di seluruh Prancis.
Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah ricuh setelah sejumlah kelompok massa melakukan kekerasan. Gedung publik menjadi sasaran, sementara butik mewah, supermarket, dan sejumlah toko dijarah.
Di Limoges, gedung balai kota dibakar. Sementara itu, di Marseille, sejumlah demonstran menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret bangunan, sedangkan di Lyon, kantor pariwisata kota dibakar.
Sejumlah toko dan fasilitas komersial juga menjadi sasaran. Massa dilaporkan mencoba menerobos Galeries Lafayette, menjarah toko Lacoste dan sejumlah butik lain, merampok toko telepon seluler SFR, serta merusak bank dan membakar mobil.
Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje menilai ibu kota telah mengalami tingkat kekerasan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Pernyataan itu menggambarkan skala kerusuhan yang terjadi di tengah aksi protes tersebut.
Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi massa yang melemparkan berbagai benda serta menembakkan kembang api ke arah petugas. Di Saint-Etienne, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa.













