JAKARTA, Cobisnis.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat dinilai dapat menjadi bagian dari proses evaluasi untuk meningkatkan kualitas dan tata kelola program.
Pengamat Kebijakan Publik sekaligus pendiri Dipantara Institute dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, R. Saddam Al Jihad, mengatakan kritik masyarakat merupakan bentuk check and balance yang penting dalam pelaksanaan kebijakan publik.
“Saya kira yang paling pertama adalah check and balance system itu harus ada ya. Jadi keseimbangan antara pro dan kontra itu adalah bagian dari aksi dan reaksi dalam suasana public policy,” ujar Saddam.
Menurut Saddam, ruang kritik perlu tetap terbuka agar pemerintah dapat memperoleh masukan sekaligus memastikan pelaksanaan kebijakan berjalan sesuai tujuan.
Ia juga mendorong adanya pengawasan partisipatif dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan yang independen untuk memantau operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga tingkat desa.
Menurutnya, pengawasan masyarakat dapat melengkapi mekanisme pengawasan resmi yang dilakukan negara melalui internal Badan Gizi Nasional (BGN), Inspektorat, maupun Kejaksaan.
Peran masyarakat di ruang digital juga dinilai penting dalam memberikan kontrol terhadap pelaksanaan program sekaligus membangun kepercayaan publik.
“Jadi ruang kritik itu dibuka oleh negara untuk kemudian diadopsi dan negara mengevaluasi SPPG-nya. Makanya tadi saya bilang ada aksi dan reaksi. Jadi akhirnya di situ seimbang. Akhirnya masyarakat semuanya saya yakin dan percaya terus program ini,” tegasnya.
Di sisi lain, hasil riset Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada Februari 2026 menunjukkan adanya dampak positif MBG yang dirasakan keluarga penerima manfaat.
Survei terhadap 1.800 orang tua menemukan 80 persen responden melihat anak mereka lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi setelah mengikuti program MBG.
Direktur RISED M. Fajar Rachmadi mengatakan program tersebut juga berdampak terhadap kebiasaan makan anak, termasuk mengurangi perilaku pilih-pilih makanan.
“Kehadiran MBG ini justru memberikan rasa tenang kepada keluarga ketika anak-anak mereka di sekolah dan survei kami menunjukkan, 55% orang tua setuju bahwa kebiasaan anaknya berubah menjadi tidak pilih-pilih makanan, setelah adanya program MBG,” terang Fajar.
Manfaat tersebut juga dirasakan keluarga prasejahtera. Sebanyak 81 persen responden dari kelompok tersebut mendukung keberlanjutan MBG karena program dinilai memberikan jaminan makanan bergizi bagi anak setiap hari.
“Menariknya lagi, ketika anak-anaknya bisa mendapatkan makanan di sekolah, orang tua juga merasa aman. Rasa aman ini timbul karena para orang tua yang kami survei yakin bahwa anak-anaknya mendapatkan makanan bergizi rutin melalui program MBG,” tegas Fajar.
Saddam menilai kritik publik dan evaluasi berbasis data perlu berjalan beriringan agar program MBG dapat terus diperbaiki.
Dengan adanya ruang kritik, pengawasan partisipatif, dan evaluasi berdasarkan hasil riset di lapangan, pelaksanaan MBG diharapkan semakin terarah sekaligus memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.













