JAKARTA, Cobisnis.com – Pemangkasan bantuan Amerika Serikat memicu krisis layanan keluarga berencana di berbagai negara berkembang. Kebijakan ini berdampak langsung pada akses perempuan terhadap layanan kesehatan reproduksi.
Selama bertahun-tahun, United States Agency for International Development menyediakan kontrasepsi gratis dan layanan medis dasar. Namun kini, banyak layanan tersebut berhenti setelah pendanaan dipangkas.
Akibatnya, klinik keliling dan pemeriksaan kehamilan tidak lagi tersedia di banyak wilayah. Di Kenya, tenaga medis melaporkan peningkatan kehamilan tidak direncanakan setiap hari.
Selain itu, banyak klinik kehabisan stok alat kontrasepsi. Situasi ini mendorong sebagian perempuan mengambil langkah berbahaya untuk mengakhiri kehamilan.
Beberapa menggunakan obat tanpa pengawasan medis atau zat beracun. Akibatnya, kasus infeksi, pendarahan, dan syok semakin meningkat.
Dalam enam bulan terakhir, tenaga kesehatan di berbagai negara melaporkan kondisi yang memburuk. Mereka mencatat kekurangan tenaga medis dan gangguan distribusi obat.













