JAKARTA, Cobisnis.com – Membedakan tulisan manusia dan kecerdasan buatan kini semakin sulit. Pasalnya, kemampuan AI dalam menghasilkan teks terus berkembang.
Banyak orang masih memiliki kemampuan menulis yang terbatas. Sementara itu, model AI kini mampu menghasilkan tulisan yang cukup baik dan mudah dibaca.
Karena itu, teknologi watermark mulai mendapat perhatian. Teknologi ini dapat membantu menunjukkan apakah sebuah teks berasal dari sistem AI. Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic mengumumkan rencana untuk memberikan “watermark” pada seluruh teks yang dihasilkan sistem Claude.
Anthropic menyebut langkah tersebut berkaitan dengan aturan baru di Uni Eropa. Regulasi tersebut mewajibkan perusahaan menandai konten yang dibuat AI.
Selain itu, aturan tersebut juga meminta perusahaan membuat konten AI dapat dideteksi oleh pengguna. Perusahaan AI lain kemungkinan mengikuti langkah serupa.
Lantas, apa sebenarnya watermark pada teks AI? Secara sederhana, watermark merupakan penanda yang disisipkan ke dalam konten. Penanda tersebut memungkinkan sistem tertentu mengidentifikasi bahwa sebuah teks berasal dari AI.
Teknologi watermark sebelumnya lebih banyak digunakan pada gambar yang dibuat komputer. Namun, penerapannya pada teks masih tergolong baru.
Google memperkenalkan teknologi watermark teks dan membuatnya tersedia secara luas pada Oktober 2024. Sementara itu, OpenAI dilaporkan telah mengembangkan teknologi serupa.
Meski begitu, OpenAI belum merilis alat tersebut kepada publik. Perkembangan teknologi ini menunjukkan upaya industri untuk meningkatkan transparansi penggunaan AI.
Dengan watermark, pengguna diharapkan dapat mengetahui asal sebuah konten dengan lebih mudah. Namun, efektivitas teknologi tersebut tetap bergantung pada cara sistem mendeteksi penanda yang disisipkan.












