JAKARTA, Cobisnis.com – Mayoritas mata uang Asia bergerak di zona merah pada perdagangan 24 Juni 2026 seiring menguatnya dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap mata uang kawasan dipicu meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar bersama peso Filipina. Selain itu, won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
Di tengah pelemahan yang melanda kawasan Asia, yen Jepang justru mencatatkan penguatan tipis. Mata uang Negeri Sakura menjadi satu-satunya yang mampu bertahan di zona hijau ketika mayoritas mata uang regional terkoreksi.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut dipengaruhi perkembangan geopolitik global serta ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Indeks dolar yang kembali menguat membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar. Arus modal yang mengarah ke aset aman juga turut mempersempit ruang penguatan mata uang Asia dalam jangka pendek.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya impor dan stabilitas harga. Bank Indonesia diperkirakan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter yang dimiliki.
Sejumlah analis menilai pergerakan mata uang Asia masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. Sikap bank sentral utama dunia dan dinamika pasar keuangan diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan valuta asing.
Meski tekanan masih membayangi, fundamental ekonomi masing-masing negara tetap menjadi penopang penting bagi stabilitas mata uang. Investor kini menantikan berbagai data ekonomi global berikutnya untuk melihat apakah tren penguatan dolar AS akan terus berlanjut atau mulai mereda.













