JAKARTA, Cobisnis.com – Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyerang tiga kapal pengangkut minyak mentah milik Iran pada Sabtu waktu setempat. Serangan itu dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal perang Angkatan Laut AS.
Menurut militer AS, rudal tersebut menargetkan dua kapal perang yang sedang beroperasi di kawasan perairan strategis Timur Tengah. Namun, kedua kapal berhasil menghindari serangan tanpa mengalami kerusakan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut sebuah kapal induk dan kapal perusak berpemandu rudal berhasil menghindari beberapa serangan yang disebut tidak diprovokasi. Karena itu, militer AS mengambil langkah balasan dengan menargetkan kapal tanker Iran.
Insiden terbaru ini berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk Persia. Selain itu, konflik tersebut juga dapat memperburuk situasi keamanan jalur pelayaran internasional yang melintasi wilayah tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, Iran berupaya memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap aktivitas pelayaran dan perdagangan minyak Iran.
Ketegangan kedua negara sebenarnya kembali meningkat sejak pekan lalu. Saat itu, Washington dan Teheran saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan.
Meski begitu, serangan terbaru memunculkan kekhawatiran akan siklus balasan yang lebih luas. Para pengamat menilai eskalasi berkelanjutan dapat mengganggu stabilitas kawasan serta memengaruhi arus perdagangan energi global.
Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia melewati perairan tersebut setiap hari.
Karena itu, setiap peningkatan konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memengaruhi pasar energi internasional dan keamanan maritim global.













