JAKARTA, Cobisnis.com – Hilangnya nafsu makan saat sedang sakit merupakan kondisi yang cukup umum terjadi. Flu, demam, infeksi saluran pernapasan, hingga gangguan pencernaan dapat membuat makanan yang biasanya menggugah selera terasa tidak menarik.
Kondisi tersebut bukan hanya karena tubuh sedang lemas. Ada mekanisme biologis yang membuat otak dan sistem pencernaan bekerja berbeda ketika tubuh sedang menghadapi infeksi.
Saat tubuh mendeteksi infeksi, sistem kekebalan akan bekerja lebih aktif untuk melawannya. Pada kondisi ini, tubuh dapat mengurangi dorongan untuk makan sehingga energi bisa dialihkan untuk menghadapi penyakit.
Komunikasi antara sistem pencernaan dan otak juga ikut berperan melalui gut brain axis. Jaringan komunikasi dua arah ini menghubungkan saluran pencernaan, sistem saraf, dan sistem kekebalan tubuh.
Ketika terjadi infeksi, sistem imun menghasilkan zat kimia bernama sitokin. Zat ini membantu mengatur respons tubuh terhadap infeksi, tetapi juga dapat memengaruhi sistem saraf dan pusat pengatur nafsu makan di otak.
Akibatnya, keinginan untuk makan dapat menurun. Mekanisme serupa juga dapat membuat nafsu makan belum langsung kembali meski gejala gangguan pencernaan mulai membaik.
Hilangnya nafsu makan juga bisa terjadi ketika seseorang mengalami flu atau infeksi saluran pernapasan. Hidung tersumbat, perubahan penciuman, dan kemampuan mengecap makanan dapat membuat makanan terasa berbeda dari biasanya.
Selain sistem kekebalan dan indera, hormon juga berperan dalam mengatur rasa lapar dan kenyang. Dua hormon yang berkaitan dengan mekanisme tersebut adalah ghrelin dan leptin.
Ghrelin dikenal sebagai salah satu hormon yang berhubungan dengan rasa lapar, sedangkan leptin memberikan sinyal mengenai kecukupan energi. Ketika seseorang sakit, keseimbangan hormon tersebut dapat berubah sehingga rasa lapar ikut berkurang.
Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan penurunan ghrelin selama infeksi mungkin berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh. Namun, mekanisme ini masih terus diteliti dan bukan berarti seseorang perlu sengaja mengurangi makan ketika sedang sakit.
Saat nafsu makan benar-benar turun, memaksakan diri menghabiskan satu porsi besar makanan juga tidak selalu diperlukan. Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan dan mencoba makan dalam jumlah kecil ketika tubuh sudah mampu menerimanya.
Makan sedikit tetapi lebih sering dapat menjadi pilihan dibandingkan langsung mengonsumsi tiga porsi besar. Beberapa suap makanan atau camilan ringan setiap beberapa jam mungkin lebih mudah diterima tubuh.
Asupan cairan juga perlu menjadi perhatian selama sakit. Demam, berkeringat, muntah, diare, atau peningkatan produksi lendir dapat membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan.
Air putih dapat menjadi pilihan utama. Dalam kondisi tertentu, cairan yang mengandung elektrolit atau kuah juga dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.
Jika sedang mual, minum dalam jumlah kecil tetapi lebih sering dapat dicoba. Ketika nafsu makan mulai kembali, makanan ringan seperti sup, roti panggang, crackers, pasta sederhana, pisang, smoothie, bubur, atau makanan lunak dapat dipilih sesuai toleransi tubuh.
Setelah mampu makan dengan lebih baik, asupan dapat secara bertahap kembali ke pola makan yang lebih lengkap dan bergizi. Makanan yang mengandung protein, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa alami dari tumbuhan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pemulihan.
Hilangnya nafsu makan selama satu atau dua hari ketika sedang sakit umumnya tidak perlu langsung membuat panik, terutama jika tubuh masih bisa mendapatkan cairan dan kondisi perlahan membaik.
Namun, pertolongan medis perlu dipertimbangkan jika tidak mampu makan selama tiga hari atau lebih, terus muntah hingga tidak mampu mempertahankan cairan, merasa sangat lemah, mengalami pusing, jumlah urine jauh berkurang, atau kondisi semakin memburuk.
Perhatian lebih juga diperlukan pada anak-anak, orang lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah ketika asupan makanan dan cairan mereka menurun.











