JAKARTA, Cobisnis.com – Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, rusaknya layanan skrining dan diagnosis dini kanker payudara di Jalur Gaza membuat skala sebenarnya penyakit tersebut tidak terdeteksi, dengan ratusan kasus diperkirakan belum terdiagnosis.
Peringatan itu disampaikan dalam pernyataan untuk menandai dimulainya ‘Oktober Merah Muda (pink october),’ yaitu bulan kesadaran kanker payudara global yang berfokus pada deteksi dini dan dukungan bagi pasien.
Dikutip dari Anadolu, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan, perempuan penderita kanker payudara di Gaza menghadapi situasi kesehatan dan kemanusiaan yang sangat buruk di tengah hilangnya kebutuhan paling mendasar untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan medis.
Layanan skrining dan diagnosis dini kini sangat terbatas dan nyaris terhenti akibat kelangkaan parah serta kerusakan berulang pada mesin mamografi, ditambah kekurangan reagen laboratorium dan perlengkapan medis. Kondisi tersebut membuat perempuan kehilangan kesempatan untuk mendeteksi kanker sejak dini.
Sistem pengobatan bagi pasien kanker payudara juga menghadapi hampir tidak tersedianya protokol pengobatan yang telah disetujui.
Kementerian mengatakan unit onkologi kekurangan obat kemoterapi, terapi hormonal, dan terapi bertarget, sementara layanan radioterapi sama sekali tidak tersedia di Gaza.
Operasi pengangkatan tumor stadium lanjut juga terhenti karena tidak tersedianya kemampuan medis khusus yang diperlukan.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebelum genosida Israel dimulai pada akhir 2023, Gaza mencatat 360 kasus baru kanker payudara setiap tahun.
Pada 2024, sebanyak 250 kasus terdiagnosis dan sekitar 260 kasus pada 2025. Namun, berdasarkan tingkat kasus sebelum perang, diperkirakan terdapat lebih dari 1.000 kasus baru selama kurun waktu sekitar tiga tahun.
“Hal paling berbahaya yang kami hadapi saat ini bukan hanya jumlah pasien yang telah terdiagnosis, tetapi juga jumlah perempuan yang mungkin mengidap penyakit tersebut tanpa terdeteksi sejak dini,” terang Kementerian Kesehatan Gaza.
Penderitaan pasien kanker juga diperburuk oleh pembatasan pergerakan dan penutupan perlintasan yang membuat ratusan pasien dengan kondisi mendesak tidak dapat pergi ke pusat layanan onkologi khusus di luar Gaza.
“‘Pink October’ dari Gaza bukan sekadar kampanye kesadaran, tetapi seruan darurat kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa para pasien yang berjuang melawan kematian di tengah tidak tersedianya kebutuhan dasar untuk pengobatan,” jelas Kementerian Kesehatan Gaza.
Sejak Oktober 2023, sistem kesehatan Gaza mengalami kerusakan parah, dengan rumah sakit dan fasilitas medis hancur atau tidak dapat beroperasi. Kekurangan obat-obatan, perlengkapan medis, dan bahan bakar juga sangat membatasi layanan kesehatan, terutama bagi pasien kanker dan penyakit kronis.
Lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka akibat serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023.













