JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat kini menggunakan tekanan ekonomi untuk melemahkan Iran setelah sebelumnya mengandalkan kekuatan militer. Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington memilih pendekatan yang lebih tenang sambil mengamati kondisi ekonomi Iran.
Trump menyebut Iran tengah menghadapi inflasi tinggi dan keterbatasan uang. “Kami akan melakukannya secara diam diam,” kata Trump, dikutip dari bebeerapa sumber, Minggu (16/08/2026)
Salah satu sasaran utama AS adalah jaringan perbankan bayangan atau shadow banking yang selama ini digunakan Iran untuk menghindari tekanan ekonomi. Sistem tersebut membantu Teheran memindahkan dana dan mengakses pendapatan minyak melalui jalur keuangan tidak resmi.
Shadow banking merupakan sistem keuangan paralel yang tidak berjalan sepenuhnya melalui lembaga perbankan resmi. Dalam kasus Iran, jaringan ini melibatkan perusahaan cangkang, bursa kripto, serta penukaran uang lintas negara.
Jaringan tersebut memungkinkan Iran memindahkan miliaran dolar dan menghindari sanksi internasional. Sistem ini juga digunakan untuk mengakses pendapatan dari sektor minyak yang menjadi sumber penting bagi perekonomian Iran.
Departemen Keuangan AS kini memburu jaringan tersebut untuk memutus jalur keuangan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 7 Agustus mengatakan Office of Foreign Assets Control atau OFAC mengambil tindakan terhadap sejumlah jaringan yang tersebar di beberapa negara.
Menurut Bessent, jaringan tersebut memungkinkan sistem perbankan bayangan Iran memindahkan ratusan juta dolar. “Iran sangat membutuhkan mata uang asing, dan yang lebih buruk lagi bagi rezim tersebut, mereka kehilangan sejumlah besar uang akibat korupsi dan salah urus dalam sistem perbankan bayangan,” kata Bessent.
Bessent juga menyebut sistem perbankan bayangan Iran sedang menghadapi tekanan akibat gejolak ekonomi. AS menilai kondisi tersebut dapat semakin membatasi kemampuan Teheran dalam memindahkan uang.
“Setiap fasilitator yang menjaga rezim tetap bertahan sedang menempatkan diri mereka sendiri dalam bahaya. Departemen Keuangan akan terus mengungkap jaringan jaringan ini dan memutusnya dari sistem keuangan AS,” ujar Bessent.
Tindakan OFAC tersebut menjadi bagian dari tekanan ekonomi AS terhadap Iran. Pemerintah AS menyebut langkah tersebut mengacu pada Executive Order 13902 dan Memorandum Kepresidenan Keamanan Nasional Presiden 2 atau NSPM 2.
Langkah terbaru itu juga disebut sebagai tindakan kedelapan OFAC sepanjang 2026 yang menargetkan jaringan perbankan bayangan Iran. Sasaran sebelumnya mencakup bank Iran dan perusahaan fiktif yang digunakan dalam jaringan tersebut.
Bessent menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari Operasi Economic Fury. AS berupaya mengganggu jalur keuangan yang dianggap penting bagi pemerintahan Iran dan aktivitas perangnya.
Departemen Keuangan AS menyebut perusahaan penukaran mata uang Iran memfasilitasi transaksi valuta asing senilai miliaran dolar setiap tahun. Karena Iran banyak menerima pembayaran minyak dalam yuan China, perusahaan tersebut berperan dalam mengubah pendapatan minyak menjadi mata uang yang lebih mudah digunakan.
Dengan memburu jaringan shadow banking, AS berupaya mempersempit ruang gerak keuangan Iran tanpa harus mengandalkan serangan militer secara langsung. Tekanan tersebut diarahkan pada jalur yang digunakan Teheran untuk mendapatkan, memindahkan, dan mengonversi dana.













