JAKARTA, Cobisnis.com – Korea Selatan bersiap menghadirkan lebih banyak film panjang berbasis kecerdasan buatan (AI) di bioskop. Salah satu proyek terbaru adalah film fiksi ilmiah berjudul Raphael yang dijadwalkan tayang pada 25 November 2026.
Raphael mengambil latar dunia pasca-apokaliptik dan mengikuti perjalanan Alexey, senjata android berwajah diktator. Kehidupannya berubah setelah bertemu dengan seorang anak yang tidak terdaftar dan pengantin manusia terakhir.
Film ini merupakan proyek kolaborasi Mateo AI Studio dan MBC C&I AI Content Lab. Proses penyutradaraannya melibatkan tiga sutradara, yakni Yang Ik-june, Moon Shin-woo, dan Jung Joo-won.
Seluruh karakter, latar, hingga adegan perang dalam Raphael dibuat menggunakan teknologi AI tanpa proses syuting langsung. Tim produksi menghabiskan waktu sekitar 14 bulan untuk menyempurnakan visual dan gerakan karakter dalam film berdurasi 138 menit tersebut.
Sebelum dijadwalkan tayang di bioskop, Raphael telah menjadi film pembuka Busan International AI Film Festival ke-2 pada tahun sebelumnya. Film ini juga diperkenalkan dalam Cannes Film Market pada Mei 2026.
Kehadiran Raphael mengikuti langkah film Steelay, karya sutradara Seol Woo-in yang lebih dulu dirilis pada Oktober 2026. Film aksi berdurasi 90 menit tersebut juga sepenuhnya mengandalkan visual buatan AI tanpa aktor fisik maupun lokasi syuting nyata.
Perkembangan ini menarik perhatian sutradara Train to Busan, Yeon Sang-ho. Ia baru saja menggunakan AI generatif untuk menyelesaikan serial spin-off empat episode berjudul Paradise Lost Universe dalam waktu dua pekan.
Meski mengakui kualitas teknologi AI semakin berkembang, Yeon menilai teknologi tersebut belum tentu mampu menggantikan aktor manusia. Menurutnya, karakter dan keunikan individu tetap menjadi bagian penting dalam sebuah film.
“Kualitasnya secara mengejutkan lumayan bagus dan karakter AI-nya bisa berakting dengan cukup baik. Namun, tidak akan mudah bagi AI untuk menggantikan aktor sungguhan,” kata Yeon dalam wawancara di Seoul pada Oktober 2026.
Perdebatan mengenai penggunaan AI juga mulai mendapat perhatian festival film. Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) ke-30 pada Juli 2026 memperluas kategori kompetisi untuk menampung film panjang berbasis AI sekaligus menggelar diskusi mengenai standar kreatifnya.
Sutradara asal China, Jia Zhangke, juga mendorong para sineas untuk mulai memahami teknologi tersebut melalui proses kreatif. Ia mengaku telah menyutradarai tiga film pendek berbasis AI dalam dua tahun terakhir.
Menurut Jia, AI dapat membantu sineas menciptakan dunia visual yang sulit diwujudkan melalui proses pengambilan gambar langsung. Namun, ia menekankan pentingnya mempertimbangkan posisi emosi dan kesadaran manusia dalam proses pembuatan film.
Meski potensinya terus berkembang, penerimaan penonton terhadap film AI belum sepenuhnya terbukti. Film China Sanxingdui: Future Past, yang disebut sebagai film panjang pertama berbasis AI di bioskop, dilaporkan gagal menarik minat pasar meski menelan biaya produksi setara Rp27,2 miliar.
Sejumlah penonton menilai kualitas visual film tersebut belum sebanding dengan pengalaman menonton di bioskop. Perbandingan dengan konten AI yang tersedia gratis di media sosial juga menjadi salah satu alasan munculnya keraguan untuk membeli tiket.












