JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang 2026 dengan penurunan mencapai 43,14 persen sejak awal tahun. Pada perdagangan Senin (19/10/2026), indeks bahkan merosot ke level 4.914,58 atau melemah 5,20 persen hingga pukul 10.27 WIB.
Penurunan tersebut setara dengan kehilangan 3.729 poin dibandingkan posisi IHSG pada awal tahun yang berada di kisaran 9.000-an. Kinerja ini menempatkan pasar saham Indonesia dalam jajaran bursa dengan performa terburuk sepanjang tahun.
Kondisi IHSG berbanding terbalik dengan sejumlah pasar saham Asia lainnya. Indeks Kospi Korea Selatan tercatat menguat 34,87 persen sepanjang tahun, sedangkan Nikkei 225 Jepang naik 24,90 persen.
Di sisi lain, Hang Seng Index Hong Kong melemah 8,17 persen atau setara 2.151 poin sepanjang tahun. Shanghai Composite China juga terkoreksi 6,67 persen, setara 264,82 poin.
Perbedaan kinerja tersebut memperlihatkan tekanan yang jauh lebih dalam di pasar saham Indonesia dibandingkan sejumlah bursa regional. Sebelumnya, pada September 2026, IHSG juga tercatat sebagai bursa dengan kinerja terburuk di antara 12 bursa saham Asia yang dibandingkan.
Dari daftar tersebut, enam bursa mencatatkan kinerja positif sepanjang 2026, sedangkan enam lainnya mengalami penurunan. Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang menjadi kelompok dengan pertumbuhan indeks dua digit hingga pertengahan September.
Tekanan terhadap IHSG juga terlihat pada perdagangan pekan sebelumnya. Sepanjang pekan itu, indeks turun 14,91 persen, sementara kapitalisasi pasar terkoreksi 14,43 persen.
Pada Jumat (16/10/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58 WIB. Langkah tersebut dilakukan setelah penurunan IHSG mencapai 8 persen.
IHSG kemudian ditutup pada level 5.185,10 pada akhir perdagangan Jumat. Namun, tekanan berlanjut pada Senin pagi ketika indeks kembali melemah hingga menembus level 5.000.
Kinerja pasar saham Indonesia yang tertinggal dari sejumlah bursa Asia menjadi perhatian di tengah volatilitas pasar. Pergerakan berikutnya akan menjadi sorotan investor untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda.













