JAKARTA, Cobisnis.com – Tampilan visual sebuah film tidak terbentuk begitu saja saat kamera mulai merekam. Ada proses perencanaan yang melibatkan pilihan kamera, lensa, pencahayaan, hingga komposisi gambar untuk menerjemahkan cerita ke layar.
Salah satu tahapan penting dalam proses tersebut adalah look test. Proses ini membantu tim kreatif menentukan dan mengevaluasi pendekatan visual sebelum produksi film dimulai.
Pembahasan mengenai proses tersebut diangkat Indonesia Cinematographers Society (ICS) melalui ICS Talks 2026 bertema “The Art of Look Test in Film”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to JAFF Market 2026 Powered by Amar Bank yang berlangsung di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Presiden ICS Agni Ariatama mengatakan, sinematografer tidak hanya bertanggung jawab terhadap aspek teknis pengambilan gambar. Mereka juga berperan menerjemahkan skenario menjadi pengalaman audiovisual bagi penonton.
“Skenario perlu diterjemahkan ke dalam bentuk audiovisual, dan di sinilah sinematografer berperan dalam menentukan bagaimana cerita tersebut diwujudkan secara visual,” ujar Agni.
Dalam kegiatan tersebut, ICS menghadirkan sinematografer Roy Lolang dan Arief Pribadi. Keduanya membagikan pengalaman melalui studi kasus serta visual breakdown dari film-film yang pernah mereka kerjakan.
Pembahasan mencakup pemilihan kamera, lensa, pencahayaan, hingga elemen visual lain yang membentuk tampilan akhir sebuah film. Peserta juga mendapat gambaran mengenai pertimbangan kreatif di balik keputusan visual tersebut.
Roy Lolang menilai kegiatan berbagi pengetahuan seperti ini penting untuk memperluas wawasan generasi muda. Menurutnya, pengalaman dan sudut pandang para praktisi dapat menambah pemahaman peserta mengenai dunia sinematografi.
Arief Pribadi juga mengapresiasi antusiasme generasi muda yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap semakin banyak ruang berbagi karena sinematografi merupakan disiplin ilmu yang perlu diperhitungkan, bukan sekadar profesi.
Arief turut menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak untuk mengembangkan sinematografi Indonesia. Ia menilai keterlibatan sponsor, termasuk Amar Bank melalui JAFF Market, dapat membantu memperluas akses pengetahuan bagi generasi muda.
Di luar aspek produksi film, Amar Bank juga membawa pembahasan mengenai kesiapan finansial pekerja kreatif. Marketing Head Amar Bank Rosalinda Hoesin mengatakan, pemahaman terhadap kebutuhan finansial sinematografer penting agar teknologi dan layanan keuangan dapat lebih relevan dengan karakter profesi mereka.
Melalui kolaborasi dengan ICS, Amar Bank mengedepankan pendekatan nurturing untuk mendukung kesiapan finansial para sinematografer. Upaya tersebut mencakup pengelolaan arus kas, pencatatan transaksi, dan pembentukan financial track record sebagai bagian dari kesiapan menuju bankability.













