JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak kembali naik untuk sesi kedua berturut turut pada Selasa, 29 September 2026. Pasar masih mencermati risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.
Pada pukul 10.45 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak November 2026 naik US$1,49 atau 1,4% menjadi US$106,77 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI naik US$1,34 atau 1,5% menjadi US$93,94 per barel.
Kedua harga acuan tersebut sebelumnya juga ditutup menguat hampir US$1 per barel pada perdagangan sesi sebelumnya. Kenaikan berlanjut meski terdapat tanda pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk.
Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan peningkatan volume ekspor minyak dari kawasan Teluk mulai terlihat. Namun, sebagian pengiriman masih mengandalkan metode alternatif seperti transfer minyak antar kapal.
Menurut Waterer, metode tersebut lebih tidak efisien dan membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan operasi normal. Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah tetap berada di level tinggi.
Data sementara penyedia data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari pada September. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari, didorong peningkatan pengiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan secara terpisah dengan mediator dalam upaya baru mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Pembicaraan selanjutnya diperkirakan membahas versi perubahan dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya.
Analis UOB menilai kebuntuan antara AS dan Iran masih menjadi risiko utama bagi harga energi dan ekspektasi inflasi. Ketidakpastian pasokan juga masih tinggi karena adanya kekhawatiran mengenai kondisi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan jalur pelayaran penting bagi pasokan minyak dan gas. Gangguan di jalur tersebut sebelumnya telah memberikan tekanan terhadap pasar energi.
Sementara itu, Amerika Serikat juga mempertimbangkan pelonggaran aturan untuk memperluas penjualan solar berwarna merah. Kebijakan tersebut disebut dapat membantu menekan harga solar, sekaligus memungkinkan sejumlah pembeli menghindari pajak bahan bakar federal.
Pembahasan mengenai kebijakan solar tersebut muncul sebagai salah satu alternatif terhadap kemungkinan larangan ekspor solar. Perkembangan kebijakan energi Amerika Serikat dan situasi konflik AS Iran masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar minyak global.












