JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia merosot ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Kamis (5/11/2026). Pelemahan ini terjadi setelah hasil pemilihan sela Amerika Serikat (AS) memunculkan harapan bahwa konflik AS-Israel dengan Iran dapat segera berakhir.
Pada awal perdagangan di Asia, harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$94,03 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$87,31 per barel pada pukul 09.40 WIB.
Penurunan lebih dalam terjadi pada penutupan perdagangan New York, Rabu waktu setempat. Harga Brent ditutup di level US$94,62 per barel, turun US$8,98 atau 8,7%, sedangkan WTI melemah US$7,97 atau 8,3% menjadi US$88,12 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut mencatatkan harga penutupan terendah sejak 31 Agustus 2026. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap perubahan peta politik di AS setelah Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali DPR dan Senat.
Kemenangan Demokrat memunculkan spekulasi bahwa Presiden AS Donald Trump akan menghadapi tekanan politik lebih besar untuk mencari jalan keluar dari konflik dengan Iran. Kondisi tersebut juga berpotensi membatasi pilihan militer pemerintah AS.
Dua sumber yang dekat dengan pemerintahan negara-negara Teluk menilai melemahnya posisi politik Trump dapat mendorong upaya mencapai kesepakatan. Serangan besar-besaran terhadap Iran pun dinilai semakin kecil kemungkinannya.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan kendali Demokrat atas Kongres dapat memperketat belanja militer AS di Timur Tengah. Situasi tersebut dinilai meningkatkan peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah konflik kembali meluas setelah pemilu AS. Namun, seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran dan Washington masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Analis Enverus, Carl Larry, menilai hasil pemilu memang memberi alasan bagi pasar untuk memperkirakan konflik Iran segera berakhir. Meski demikian, ia justru mengkhawatirkan kemungkinan eskalasi dalam waktu dekat.
Data pelacakan kapal Vortexa menunjukkan ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk olahan dari negara-negara Teluk, di luar gas minyak cair atau LPG, mencapai rata-rata 17,1 juta barel per hari pada Oktober 2026. Angka tersebut turun dari 18,9 juta barel per hari pada September, meski volumenya masih sekitar tiga perempat dari tingkat sebelum perang.












