JAKARTA, Cobisnis.com – Ribuan kapal nelayan besar di Juwana, Kabupaten Pati, belum kembali melaut pada 2026. Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi penyebab utama.
Harga BBM naik dari sekitar Rp17 ribu menjadi Rp30 ribu per liter sejak Maret 2026. Akibatnya, sekitar 1.200 kapal di atas 30 GT memilih berhenti beroperasi.
Selain itu, banyak kapal masih bersandar di pelabuhan karena biaya terlalu tinggi. Kondisi ini langsung memukul pendapatan nelayan.
Akibatnya, puluhan ribu nelayan kehilangan sumber penghasilan. Sementara itu, aktivitas lelang ikan di Juwana ikut menurun drastis.
Di sisi lain, sektor pengolahan hasil laut juga terdampak. Minimnya pasokan ikan membuat produksi ikut melambat.
Salah satu nelayan, Agus Utomo, mengatakan biaya melaut kini tidak terjangkau. Oleh karena itu, banyak nelayan memilih tidak melaut.
Ia juga menyebut kondisi ini menyulitkan kebutuhan harian. Karena itu, ia berharap pemerintah segera menurunkan harga BBM.
Sementara itu, pemilik kapal Mohammad Agung menilai kenaikan harga BBM sangat memberatkan. Ia menegaskan BBM menjadi biaya utama dalam operasional.
Menurutnya, sekitar 70 persen biaya melaut berasal dari bahan bakar. Dengan harga saat ini, kapal tidak bisa beroperasi.
Sebagai langkah lanjutan, nelayan berencana menggelar aksi pada 4 Mei 2026. Sekitar 10 ribu orang diperkirakan ikut serta.
Mereka menuntut penurunan harga BBM agar aktivitas melaut kembali berjalan. Jika kondisi berlanjut, sektor perikanan bisa melemah.













