JAKARTA, Cobisnis.com – General Motors (GM) sepakat membayar 220 juta dolar AS untuk menyelesaikan gugatan terkait dugaan penjualan data pribadi pelanggan tanpa persetujuan. Kesepakatan tersebut dicapai bersama koalisi jaksa agung dari 35 negara bagian Amerika Serikat dan District of Columbia pada Kamis (29/10/2026).
Kasus ini berkaitan dengan program Smart Driver milik GM yang beroperasi sejak 2016 hingga dihentikan pada 2024. Program tersebut dirancang untuk membantu pengemudi meningkatkan keselamatan berkendara dengan mencatat berbagai kebiasaan, seperti frekuensi pengereman mendadak, akselerasi, kecepatan kendaraan, serta waktu dan lokasi perjalanan.
Namun, hasil penyelidikan koalisi jaksa agung menemukan bahwa GM diduga menjual informasi tersebut kepada perusahaan perantara data atau data broker. Informasi itu kemudian diteruskan kepada perusahaan asuransi yang dapat menggunakannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan premi kendaraan pelanggan.
Jaksa Agung New York Letitia James menyatakan bahwa jutaan pengemudi terdaftar dalam program Smart Driver tanpa memperoleh informasi yang memadai mengenai penggunaan data mereka. Bahkan, aplikasi OnStar dilaporkan sempat menunjukkan lebih dari 370.000 pengemudi tidak terdaftar dalam program tersebut, meskipun data perjalanan mereka tetap dikumpulkan.
Dalam kesepakatan penyelesaian, GM diwajibkan membayar total 220 juta dolar AS kepada negara-negara bagian yang terlibat. Perusahaan juga harus membatasi pengumpulan data berkendara dan memperoleh persetujuan tegas dari pelanggan sebelum mengumpulkan atau membagikan informasi lokasi serta kebiasaan mengemudi mereka.
Selain itu, GM diwajibkan membangun program perlindungan privasi data, menjalani penilaian internal dan pihak ketiga, serta memperketat pengawasan dan pelatihan terhadap jaringan dealernya agar pelanggan tidak didaftarkan dalam layanan pengumpulan data tanpa persetujuan.
Menanggapi kesepakatan tersebut, juru bicara GM menyatakan bahwa perusahaan telah menghentikan program Smart Driver pada 2024. GM juga menyebut kesepakatan ini memperkuat upaya perusahaan dalam meningkatkan perlindungan privasi dan memberikan kejelasan kepada pelanggan mengenai penggunaan informasi pribadi mereka.
Kesepakatan senilai 220 juta dolar AS ini menjadi salah satu langkah penegakan perlindungan data konsumen di industri otomotif Amerika Serikat. Meski demikian, penyelesaian tersebut tidak secara otomatis memberikan ganti rugi langsung kepada setiap pelanggan yang terdampak.











