JAKARTA, Cobisnis.com – Harga bahan baku tekstil melonjak hingga 40% dalam dua pekan terakhir, memicu potensi kenaikan harga pakaian di pasar ritel dalam waktu dekat.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang menyentuh sekitar US$ 110 per barel. Kondisi geopolitik global ikut mendorong biaya produksi industri tekstil meningkat signifikan.
Salah satu bahan baku utama, paraxylene, kini berada di kisaran US$ 1.300 per ton. Angka ini menunjukkan kenaikan tajam dalam waktu singkat dan memberi tekanan besar pada industri hulu.
Dampak kenaikan ini tidak langsung terasa di konsumen, namun bergerak secara bertahap. Dalam satu minggu, kenaikan akan menyentuh produsen kain, lalu berlanjut ke industri pakaian jadi dalam dua minggu berikutnya.
Efek domino tersebut diperkirakan akan sampai ke sektor ritel dalam waktu sekitar tiga minggu. Artinya, harga pakaian di pasaran berpotensi mengalami penyesuaian secara bertahap.
Kenaikan harga di tingkat ritel diperkirakan bisa mencapai hingga 10%. Hal ini terjadi karena pelaku usaha harus menyesuaikan biaya produksi yang meningkat.
Di sisi lain, pasokan bahan baku dalam negeri sebenarnya masih tersedia. Namun, harga yang tinggi membuat daya saing produk menjadi tertekan, terutama dibandingkan produk impor.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat utilisasi industri. Produsen polyester nasional masih beroperasi di bawah 40%, sementara rayon sekitar 70%.
Banyak pelaku industri memilih membatasi produksi dan hanya melayani pelanggan tetap. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil juga menghadapi tantangan dari meningkatnya produk impor. Kondisi ini berdampak pada penurunan daya saing industri lokal.
Situasi tersebut bahkan memicu penutupan puluhan pabrik dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menjadi sinyal melemahnya struktur industri tekstil dalam negeri.
Secara keseluruhan, kenaikan bahan baku tidak hanya berdampak pada harga pakaian, tetapi juga memperlihatkan tekanan struktural dalam industri. Tanpa penyesuaian kebijakan dan penguatan sektor hulu, tekanan ini berpotensi berlanjut.













