JAKARTA, Cobisnis.com – Hantavirus kembali jadi sorotan internasional setelah wabah melanda penumpang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik. WHO konfirmasi lima kasus dan tiga penumpang dinyatakan meninggal dunia.
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut kemungkinan masih ada kasus lain yang belum terdeteksi. Namun ia tegaskan risiko terhadap kesehatan masyarakat secara umum tetap rendah.
Meski ramai diperbincangkan, hantavirus bukan penyakit baru. Kemenkes RI menjelaskan virus ini sudah diidentifikasi sejak 1978 di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan, dan diduga terkait lebih dari 3.000 kasus demam berdarah pada pasukan PBB usai Perang Korea.
Hantavirus termasuk penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularannya lewat kontak dengan tikus terinfeksi, termasuk urine, kotoran, dan air liurnya.
Jenis yang terdeteksi di MV Hondius adalah virus Andes, yang umum tersebar di Amerika Selatan. Varian ini paling diperhatikan karena ada indikasi penularan terbatas antar manusia.
Hantavirus bisa sebabkan dua kondisi serius. Pertama HFRS yang serang ginjal, dan kedua HPS yang serang paru-paru.
Gejala HFRS meliputi sakit kepala intens, demam, menggigil, mual, hingga penglihatan kabur. Tingkat kematian akibat HFRS berada di kisaran 5 hingga 15 persen.
HPS jauh lebih mematikan dengan tingkat kematian 40 hingga 50 persen. Gejalanya berkembang dari demam dan nyeri otot menjadi sesak napas berat dalam empat hingga sepuluh hari.
Hantavirus punya tujuh tipe utama dengan persebaran berbeda di tiap wilayah. Tipe Seoul satu-satunya yang tersebar di seluruh dunia, sementara tipe lain lebih terlokalisasi.
WHO tegaskan semua orang dari segala usia berpotensi terpapar hantavirus. Kewaspadaan tetap perlu dijaga terutama bagi yang sering terpapar lingkungan dengan populasi tikus tinggi.













