JAKARTA, Cobisnis.com – Rusia kembali menghadapi periode yang dikenal sebagai “Black August” atau “kutukan Agustus”. Istilah tersebut menjadi sebutan populer di kalangan jurnalis Rusia. Mereka menggunakannya untuk menggambarkan berbagai krisis besar yang terjadi pada akhir musim panas.
Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah peristiwa besar memang terjadi pada Agustus. Kondisi itu memperkuat keyakinan masyarakat terhadap adanya “kutukan Agustus”.
Namun, istilah tersebut memiliki makna berbeda dengan “silly season” dalam jurnalisme Inggris. Istilah itu biasanya menggambarkan periode berita ringan ketika parlemen memasuki masa reses.
Sementara itu, masyarakat Rusia melihat Agustus dengan pandangan lebih pesimistis. Sejumlah catatan sejarah menunjukkan berbagai peristiwa besar pernah mengguncang negara tersebut pada bulan ini.
Pada Agustus 1991, kelompok garis keras Partai Komunis mencoba menggulingkan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Kudeta tersebut gagal, tetapi ikut mempercepat keruntuhan Uni Soviet.
Kemudian, pada Agustus 1998, Rusia mengalami krisis keuangan besar. Pemerintah gagal membayar utang domestik dan nilai rubel mengalami kejatuhan.
Setahun kemudian, kelompok militan melakukan serangan ke Dagestan, wilayah di Rusia bagian selatan. Peristiwa itu menjadi awal dari Perang Chechnya Kedua.
Konflik tersebut juga ikut mengangkat nama Vladimir Putin ke tingkat kekuasaan yang lebih tinggi. Saat itu, Putin masih dikenal sebagai mantan perwira KGB yang relatif belum dikenal luas.
Kini, istilah “Black August” kembali muncul di tengah berbagai tekanan yang dihadapi Rusia. Namun, Presiden Vladimir Putin dinilai berusaha meredam perhatian terhadap krisis musim panas tersebut.












