JAKARTA, Cobisnis.com – Menopause merupakan fase alami yang dialami perempuan seiring bertambahnya usia. Namun, masih banyak anggapan yang kurang tepat mengenai perubahan tubuh selama menuju fase tersebut.
Perubahan hormon sebenarnya dapat mulai terjadi sejak perempuan memasuki usia 40-an. Masa transisi ini dikenal sebagai perimenopause dan dapat memengaruhi siklus menstruasi, kondisi tubuh, hingga suasana hati.
Berbagai mitos yang beredar membuat menopause kerap dianggap sebagai fase yang menakutkan. Padahal, sejumlah anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
1. Menopause Terjadi pada Usia yang Sama
Tidak semua perempuan mengalami menopause pada usia yang sama. Proses menuju menopause dapat dimulai sejak pertengahan usia 40-an dan waktunya berbeda pada setiap orang.
Menopause umumnya ditandai dengan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sebelum mencapai tahap tersebut, perempuan biasanya melewati masa perimenopause.
“Masa transisi menuju menopause sangat bervariasi dari satu orang ke orang lain, dan banyak perempuan mulai mengalami gejala perimenopause pada usia 40-an,” jelas dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Sweta Patel, dikutip dari EatingWell.
2. Gejala Menopause Hanya Hot Flashes
Sensasi panas yang muncul secara tiba-tiba atau hot flashes memang menjadi salah satu gejala yang sering dikaitkan dengan menopause. Namun, perubahan hormon dapat menimbulkan berbagai keluhan lainnya.
Dikutip dari National Geographic, lebih dari 80 persen perempuan mengalami hot flashes. Selain itu, beberapa perempuan juga dapat mengalami kulit gatal, nyeri sendi, jantung berdebar, pusing, telinga berdenging hingga sensasi terbakar pada mulut.
“Ketika Anda mulai melihat literaturnya, terdapat reseptor estrogen di dalam mulut, jadi masuk akal jika kondisi tersebut memang berkaitan,” kata Makeba Williams, peneliti menopause di University of Illinois College of Medicine.
Meski demikian, keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh menopause. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab lainnya.
3. Perimenopause Berarti Tidak Bisa Hamil
Menstruasi yang mulai tidak teratur bukan berarti kesuburan langsung berhenti. Selama ovulasi masih terjadi, peluang kehamilan tetap ada meskipun kemungkinan tersebut menurun seiring pertambahan usia.
“Selama seorang perempuan masih mengalami menstruasi, meskipun siklusnya tidak teratur, ovulasi masih dapat terjadi sehingga kehamilan tetap mungkin terjadi,” jelas dr. Sweta.
Karena itu, perempuan yang berada dalam masa perimenopause tetap perlu menggunakan kontrasepsi jika tidak merencanakan kehamilan. Menghitung masa subur berdasarkan siklus menstruasi juga menjadi lebih sulit karena pola menstruasi dapat berubah-ubah.
4. Menopause Pasti Membuat Berat Badan Naik
Menopause memang dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh, termasuk meningkatkan penumpukan lemak di sekitar perut. Namun, perubahan berat badan tidak bisa sepenuhnya disebabkan oleh menopause.
Pertambahan usia dan berkurangnya massa otot juga dapat memengaruhi berat badan. Selain itu, basal metabolic rate (BMR) atau jumlah energi yang digunakan tubuh saat beristirahat cenderung menurun seiring usia.
“Penelitian yang mengamati perempuan usia paruh baya menemukan bahwa setelah disesuaikan dengan usia, komposisi tubuh, dan aktivitas fisik, perimenopause dan pascamenopause tidak berkaitan dengan penurunan BMR,” jelas Ward.
Karena itu, perubahan berat badan selama masa menopause perlu dilihat dari berbagai faktor. Pola tidur yang cukup, pengelolaan stres, aktivitas fisik, terutama latihan kekuatan, serta pemeriksaan rutin dapat membantu perempuan menjalani masa transisi dengan lebih baik.












