JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat bersiap merayakan hari jadinya yang ke-250 pada 4 Juli 2026. Namun, suasana perayaan kali ini dibayangi menurunnya optimisme dan kebanggaan masyarakat terhadap negaranya.
Philip Gulley, pendeta Quaker berusia 65 tahun asal Indiana, menjadi salah satu warga yang merasakan perubahan tersebut. Saat Amerika merayakan ulang tahun ke-200 pada 1976, ia menikmati pesta lingkungan yang meriah bersama keluarga dan para tetangganya.
Namun, tahun ini Gulley memilih tidak mengikuti tradisi menyaksikan pesta kembang api bersama keluarganya. Ia mengaku kecewa dengan kondisi Amerika saat ini.
Sementara itu, berbagai survei menunjukkan banyak warga memiliki pandangan serupa. Mayoritas masyarakat menilai arah perkembangan negara semakin mengkhawatirkan.
Menurut hasil riset terbaru, hampir 70 persen warga Amerika tidak puas dengan kondisi negaranya saat ini. Selain itu, sekitar 60 persen percaya masa-masa terbaik Amerika telah berlalu.
Di sisi lain, tingkat kebanggaan nasional juga terus menurun. Jajak pendapat Gallup mencatat hanya sekitar separuh warga yang merasa sangat bangga atau cukup bangga menjadi orang Amerika.
Angka tersebut menjadi yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Karena itu, peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika berlangsung di tengah suasana yang jauh berbeda dibandingkan perayaan-perayaan sebelumnya.
Survei lain juga menunjukkan lebih dari tiga perempat responden meyakini para pendiri Amerika akan kecewa melihat kondisi negara saat ini. Meski begitu, perayaan Hari Kemerdekaan tetap digelar di berbagai wilayah Amerika Serikat.












