JAKARTA, Cobisnis.com – Kenaikan harga avtur global disebut menjadi penyebab utama melonjaknya harga tiket pesawat domestik dalam beberapa waktu terakhir.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa tekanan geopolitik global mendorong harga bahan bakar penerbangan naik signifikan.
Ia memaparkan bahwa di kawasan Asia Tenggara, harga avtur sudah berada di level tinggi, seperti di Filipina yang mencapai Rp 25.326 per liter.
Sementara di Thailand, harga avtur bahkan menembus Rp 29.518 per liter, menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam di kawasan.
Di Indonesia sendiri, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta tercatat sekitar Rp 23.551 per liter, yang juga mengalami kenaikan dibanding periode sebelumnya.
Menurut Airlangga, avtur menyumbang hingga 40% dari total biaya operasional maskapai, sehingga setiap kenaikan langsung berdampak ke tarif penerbangan.
Kondisi ini membuat maskapai harus menyesuaikan biaya operasional agar tetap bisa menjaga keberlangsungan bisnis.
Pemerintah pun mengizinkan kenaikan harga tiket pesawat di kisaran 9% hingga 13% sebagai respons atas tekanan biaya tersebut.
Namun, untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memberikan insentif berupa PPN Ditanggung Pemerintah sebesar 11% untuk tiket ekonomi domestik.
Airlangga juga menegaskan bahwa avtur merupakan BBM nonsubsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar global.
Jika tidak disesuaikan, ia menilai maskapai asing berpotensi memanfaatkan perbedaan harga tersebut untuk keuntungan kompetitif.
Dengan kondisi ini, pemerintah berupaya menyeimbangkan antara keberlanjutan industri penerbangan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.












